Selasa 16 Oktober 2007 saya jalan-jalan ke pangandaran. Untuk sekedar menghilangkan kepenatan dirumah. Jalan sore-sore, lihat sunset dan mengunjungi kawan lama yang kebetulan tugas sebagai SPB telkomsel siaga dipantai pangandaran. Sampai disana saya teringat amanat dari i-moovers untuk mencari informasi tentang pangandaran dan penginapannya, yang rencananya i-moovers sewaktu-waktu ingin mengadakan tour wisata ke sana. Saya bingung harus mulai cari informasi dari mana, teman saya Rona (teman SMA) yang biasa mangkal dibibir pantai sebagai penjual minuman kini entah kemana warung yang biasa dia gunakan untuk menjajakan jualannya telah hilang ditelan ombak tsunami.
Tenang saja saya masih ada kenalan di pangandaran namanya Wandi Guntara (teman SMA). Beberapa tahun yang lalu saya pernah ke rumahnya sekali, yaitu di pantai timur pangandaran. Saya pergi kesana sambil mengingat-ngingat kembali jalan menuju rumahnya. Sampai disana keadaan tampak lain. Saya sudah benar-benar lupa jalan menuju ke rumahnya, tapi sedikit ada bayangan lah dengan bentuk rumahnya, mmmmmm…. saya coba tanya penduduk sekitar sana saja. Saya tanya Ibu2 Tua “Ibu kenal wandi?”, Si Ibu menjawab “oh wandi yang masih muda itu?”, “Dia anaknya Bu Ocih itu warungnya yang dipinggir pantai deket jalan”. Dalam hati saya berkata “Oh wandi sekarang jualan dipantai juga, seingat saya dulu dia coba masuk ke Angkatan Laut. Saya cari beberapa warung disana, saya tanya seorang wanita setengah baya “Teh,… wandi-na aya?” dia agak sedikit kaget melihat saya. Saya mencoba menjelaskan bahwa saya teman Sma-nya wandi dan sudah lama tidak ketemu. Akhirnya dia sudah mulai menerima kedatangan saya. Oh wandinya lagi ke cilacap lagi main, begitu ucapnya. Dari dalam warung terdengar suara ibu2 memanggil.. “Aya saha nyi?”) . Ups ternyata dia ibunya wandi, saya coba menyapa dan bercerita kalo saya teman anaknya dan sekarang sudah benar2 lupa rumahnya sebelah mana. Si Ibu yang terlihat sakit menunduk sambil berkata “kami sudah tidak punya rumah, hancur oleh gelombang tsunami setahun yang lalu”.
Ya Allah… saya benar2 tidak menyangka ternyata gelombang tsunami bukan hanya meluluh lantahkan pantai barat saja, akan tetapi menghancurkan pemukiman disekitar pantai timur pangandaran, dan itu menimpa rumah teman saya. Sampai setahun bencana itu berlalu mereka belum bangun kembali rumahnya, dan yang tersisa hanya warung yang mereka jadikan lahan mencari nafkah dan berteduh dari panas dan hujan. Akhirnya saya pamit sama mereka dan titip salam buat wandi, semoga mereka diberikan kekuatan menghadapi semua cobaan ini.


Posted by nusagede
Posted by nusagede
Posted by nusagede 


